No comments yet

Festival Koreografi Pencak

Ratusan pesilat muda dari berbagai perguruan di Yogyakarta, Jawa Tengah, Jakarta, dan Jawa Timur unjuk kebolehan di Kota Yogyakarta. Mereka mengikuti Festival Koreografi Pencak yang digelar di Plaza Monumen Serangan Oemoem (SO) 1 Maret 1949 di kawasan titik nol kilometer.

Di lokasi, Sabtu (10/12/2016), para pesilat yang ikut acara itu sebagian besar adalah siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Untuk siswa SD, lomba diikuti 15 kelompok. Sedangkan SMP diikuti 11 kelompok. Selain itu di plaza monumen juga digelar lomba menggambar dengan tema pencak silat yang diikuti puluhan anak.

Ratusan Pesilat Muda Ikuti Festival Koreografi Pencak di YogyakartaFoto: Bagus Kurniawan

Tidak seperti saat berlatih silat di masing-masing perguruan dengan seragam silat. Para pesilat saat mengikuti lomba pakaian silat ada yang dipadukan dengan busana Jawa yakni mengenakan kain batik, baju surjan lurik dan ikat kepala/udheng. Tidak lupa mereka juga membawa senjata andalan masing-masing seperti pisau karambit, pedang, toya dan cemeti.

Saat masing-masing kelompok tampil selama lebih kurang lima menit, gerak gemulai seperti tarian dipadukan dengan gerakan silat yang cepat. Tepuk tangan pun ketika menyaksikan para pesilat yang tampil dengan bagus.

“Ini sebagai bentuk kegiatan budaya karena silat sebagai bagian budaya asli nusantara,” ungkap Suryadi ketua panitia festival.

Menurutnya festival ini di prakarsai oleh Paseduluran Angkringan Silat (PAS), Tantungan Project dan Lembaga Pengembangan Pribadi dan Korporasi WhaniDProject. Berbagai perguruan silat yang di Yogyakarta, Jawa Tengah, Jakarta dan Jawa Timu itu menampilkan gerak atau jurus-jurus silat yang dipadukan dengan koreografi tari sehingga tampak indah dilihat.

Ratusan Pesilat Muda Ikuti Festival Koreografi Pencak di YogyakartaFoto: Bagus Kurniawan

“Iringan musik juga bermacam-macam. Ada yang diambil dari musik Jawa, Padang, Jawa Barat dan lain-lain,” katanya.

Sementara itu Whani Dharmawan salah satu juri festival mengungkapkan pencak silat tidak hanya mencakup olahraga bela diri untuk prestasi atau olahraga. Namun dalam gerakan-gerakan pencak silat terkandung unsur-unsur seni budaya.

“Pencak silat budaya ini yang kami kembangkan bersama teman-teman di Paseduluran Angkringan Silat (PAS) Yogyakarta selama lebih kurang lima tahun terakhir ini,” ungkap Whani.

Menurutnya saat digelar berbagai kegiatan pencak silat budaya, respon dari berbagai perguruan silat di Indonesia itu sangatlah positif.

“Bersama Tantungan Prjocet, kami terus mengembangkan pencak silat sebagai beladiri asli warisan Indonesia,” pungkas Whani.

sumber : detik.com

Post a comment